KOMPONEN ARSITEKTUR UNTUK DSS
Komponen (arsitektur) dalam DSS
1. Dialog
(interface software) pemakai dengan
sitem
2. Database
mendukung sistem tsb
3.
Model Base memberikan kemampuan analisis
1.
KOMPONEN DIALOG (User System Interface)
1.1. Knowledge Base (Bennott)
• Apa yang
diketahui user tentang keputusan,
bagaimana
cara menggunakan DSS;
• Pengetahuan apa yang harus
dimiliki user agar
dapat
berinteraksi dengan sistem dalam berhubungan dengan area masalah dan dalam
pembuatan
keputusan yang diperlukan
• atau apa
yang sudah dikuasai user (mis : manual, help options, dll)
Teknik pelatihan penggunaan DSS, dapat dilakukan dengan
“Melatih” user :
-
One on one tutorial eksekutif senior
-
Closes and lectures user yang memerlukan
training berjumlah banyak
- Instruksi terprogram dan instruksi yang dibantu dengan
komputer bila DSS dipakai dalam jangka
lama dan digunakan dalam memberikan layanan bagi banyak pemakai
- Manual book
- Command / sequence file
Berisi instruksi yang diprogramkan sebelumnya
1.2. Action Language (Bahasa Tindakan)
•Apa yang dapat dilakukan user dalam berkomunikasi dengan sistem (mengontrol DSS); atau Opsion yang mengarahkan tindakan sistem tsb.
Action language dapat dilakukan dengan :
- Cara tanya jawab
- Menggunakan menu
- Bahasa perintah
- Pendekatan form Input - Output
1.3. Presentation Language (Bahasa Presentasi) Presentasi
alternatif dari respon sistem tsb;
atau apa yang
dilihat oleh user (laporan tercetakdari DSS).
Contoh : printer, monitor, grafik, warna, audiooutput, animation, dll
4 Jenis informasi :
I. Dua jenis informasi yang dikelola secara internal
a. Informasi dari record data (entity)
b. Informasi dari dokumen (konsep, gagasan,laporan, memo)
II. Dua jenis yang dikelola secara eksternal (dapat dibeli)
a. Informasi yang didasarkan pada catatan /record (Kondisi
ekonomi dan keuangan, jadwal penerbangan,
kuotasi harga
stock)
b. Informasi yg didasarkan pd dokumen eksternal (Opini
mengenai ramalan atau data ekonomi regional)
3.Komponen model
Model didalam DSS dapat dianggap sebagai model base,Jenis-jenis model :
1. Model Strategis
• Digunakan oleh manajemen puncak untuk :
- Membantu menetapkan tujuan organisasi
- Menetapkan sumber daya untuk meraih tujuan tersebut-
menetapkan kebijaksanaan untuk mengatur
perolehan disposisi
sumber daya tsb (misal :perencanaan tujuan perusahaan, penentuan lokasi, perencanaan
dampak lingkungan)
• Data yang dibutuhkan sebagian besar data eksternal dan
subyektif
• Cakrawala waktu utk model tsb biasanya diukur dalam tahun
(misal : jangka waktu tanggung jawab
perencanaan
strategis manajemen puncak)
• Model tsb bersifat deterministik dan deskripti
2. Model Taktis
• Diterapkan oleh manajemen menengah untuk membantu dalam
mengalokasi dan mengontrol penggunaan
sumber daya
organisasi (misal : perencanaan keuangan, perencanaan keperluan pabrik,
perencanaan
promosi penjualan,
penentuan tata letak gedung / pabrik)
• Data yang dibutuhkan sebagian besar data internal dan
beberapa data eksternal serta subyektif
• Cakrawala waktu : 1 bulan s/d 2 tahun
• Model ini bersifat : deterministik
3. Model Operasional
• Diterapkan untuk mendukung pembuatan keputusan jangka
pendek (misal : harian atau mingguan) yang
sering dijumpai
pada tingkat organisasi bawah
• Data yang dibutuhkan : data internal
• Sifat deterministik
4. Block & Subroutine bangunan model
• Meliputi : pemrograman linier, analisis rangkaian waktu,
analisis regresi, dan Prosedur Sampling Monte
Carlo
• Dapat digunakan secara terpisah untuk mendukung keputusan
atau digunakan secara bersama untuk
merekonstruksi dan
memelihara model yang lebih komprehensif Masalah dalam Modeling Tradisional
Dari sudut pandang
historis, yang dialami organisasi berhubung dengan model beragam. Ada yang berhasil
dan ada yang gagal.
Masalah-masalah yang mengarah kepada kegagalan antara lain :
• Sulitnya memperoleh input data utk model
• Sulitnya memahami cara menerapkan output dari model
• Sulitnya menjaga agar model tetap up to date
• Sedikitnya integrasi diantara model.
• Lemahnya interaksi antara model dengan pemakai
• Kurangnya keyakinan user terhadap model yang digunakan,
dengan demikian model tsb tidak ia percaya.
• Sulitnya pemakai dalam menciptakan modelnya sendiri
Pendekatan SPK terhadap MODELING Pendekatan SPK terhadap
modeling berusaha untuk meminimalkan masalah tradisional dengan cara memberi
penekanan bahwa suatu sistem (Dialog, Data dan Model bekerja secara
bersama-sama) diperlukan untuk mendukung pembuatan keputusan.
Cara tsb antara lain :
• Menggunakan database yang diperlukan untuk memecahkan banyak
masalah (membangun, menggunakan,
memelihara model).
• Output dari model ditempatkan dalam database, dengan
demikian memungkinkan output tsb diakses
oleh model lain dan
memberikan integrasi diantara model tsb
• Dialog yang dirancang dengan baik akan meningkatkan
peluang atau kemampuan pemakai dalam
mengembangkan
modelnya sendiri, mengoperasikan sistem dengan baik, menjaga agar tetap up to date, dan
menerapkan
outputnya untuk mendukung suatu pembuatan keputusan
• Model dalam suatu SPK kemungkinan besar bisa digunakan,
sebab didukung oleh komponen data dan dialog










